Pages

Rabu, 15 Februari 2012

PENYESALAN

Bodohnya diriku melakukan semua itu

Bodohnya diriku melepaskanmu, memutuskan hubungan kita

Kini hanyalah penyesalan yang ada

Inginku kembali ke masa-masa itu

Mengulang semua dari awal

Aku rindu semua tentangmu

Masihkah ada secercah harapan untuk ku?

Untuk kembali membangun sebuah hubungan baru denganmu

Untukku yang telah menyakiti hatimu

Andai kau tahu semua yang ada di dalam hatiku saat ini

STORY

Semua berawal dari liburan kenaikan kelas. Siapa yang menyangka cowok yang terkenal alim dan periang itu tiba-tiba menyatakan cinta pada teman perempuannya yang tidak lain teman kelasnya sendiri. Entahlah ada angin atau setan apa yang datang sampai dia melakukan itu semua. Pastinya dengan tahap. Okey pertama lewat sms, terus makin hari makin sering. Ditambah dengan gombalan “mautnya”. Cewek mana coba yang gak klepek-klepek dikasih gombalan kayak gitu? Sama cowok yang lumayan cakep pula *ehh. Selain sms mereka juga sering telponan, tapi mungkin mereka nervous kali ya jadi gak ada dari mereka yang berani memulai pembicaraan. Proses PDKT mereka hanya berlangsung kurang lebih 2-3 mingguanlah.
Tepat 2 hari setelah ulang tahun si cewek, si cowok itupun nembak dia. Wow si cewek pasti kaget dong gak nyangka teman kelasnya yang satu itu ngelakuin hal “gokil” kayak gitu. Tapi yah yang namanya cinta susah ditebak, merekapun jadian. Tapi eitssss tunggu dulu, pasti kalian ngira hubungan mereka berlangsung lama. Iya kan? YOU’RE WRONG. Sehari setelah mereka jadian, si cewek melihat ada yang aneh dari pacarnya. Seperti tambah pendiam, gak kayak dulu lagi sebelum jadian. Si cewek seperti merasa bersalah, dia tidak mau karena mereka jadian kelas jadi gak seramai dulu lagi. Yaa Tuhan bodohnya cewek itu. Iya minta putus tanpa alasan yang gak jelas *sebenarnya maksudnya baik*. Lebih bodohnya lagi sekarang iya menyesal pernah menyakiti cowok sebaik dia dan melepaskannya, dan mungkin mereka GAK AKAN PERNAH BISA BERSATU LAGI.....

Selasa, 14 Februari 2012

Cinta Dalam Hati

Gue mencintainya lebih dari apapun juga …
Gue rela ngelakuin apa saja asal bisa melihatnya tersenyum …
Tapi, akankah gue memilikinya ???

Gue Shilla, cewek 15 tahun yang udah dibutain sama yang namanya CINTA. Gue enggak peduli dengan semua yang udah dia lakukan kegue, rasa sayang gue kedia enggak akan pernah hilang. Mungkin ini yang dinamakan pengorbanan cinta.

Hari ini, gue sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Banyak hal yang harus gue lakukan sebelum tiba di sekolah tepat waktu, ditambah lagi jam pelajaran pertama memaksa gue harus tiba lebih awal dari biasanya, terlambat sedikit saja sudah enggak boleh masuk belajar. “Hemph, sepertinya hari ini akan jadi hari yang sangat melelahkan.” Batin gue.

“Ini dik, semuanya 2 rangkap jadi Rp. 35.000,-.“ Suara mbak pemilik rental komputer membuyarkan gue dari lamunan.
“Oh iya mbak, ini uangnya. Terima kasih.” Ucap gue sambil tersenyum hangat kemudian ngelanjutin perjalanan ke sekolah.

Untung saja gue masih sempat mampir di tempat rental komputer buat ngeprint beberapa tugas yang diberi oleh pak Duta, guru terkiller di sekolah. Seandainya saja print gue enggak rusak, pasti gue enggak akan serepot ini.

“Akhirnya tugas yang gue kerjain mati-matian semalaman selesai juga.” Ucap gue, tak lupa seulas senyuman tanda puas menghiasi bibirku. Sebenarnya jangka waktu untuk mengerjakan tugas ini satu minggu, tapi karena banyaknya tugas yang diberikan oleh masing-masing guru mata pelajaran membuat gue harus menunda untuk menyelesaikannya.

Setibanya di sekolah, gue melirik jam tangan pink kesayangan gue yang sudah menunjukkan pukul 07.00. “Hmm, untung masih ada waktu untuk nyelipin satu tugas ini di dalam lacinya” batin gue. Tepat pukul 07.15 bel pun berbunyi, pak Duta sang guru killer pun udah masuk ke dalam kelas namun sosok yang gue tunggu tak kunjung datang. “Mengapa dia belum datang juga ?” Tanya gue dalam hati.

Gue merasa ada yang kurang saat melemparkan pandanganku pada sebuah bangku kosong di dekat pintu. Disinilah gue duduk, di bangku kedua dari depan samping temanku Sivia. Ya, tempat yang sangat strategis untuk dapat meliriknya setiap saat dengan jarak yang lumayan dekat tanpa ketahuan olehnya.

“Lo kenapa Shil ?” Tanya Sivia seraya berbisik yang ternyata sejak tadi memperhatikanku. Tanpa menunggu jawaban gue, Sivia melirik ke bangku kosong yang menjadi pusat perhatianku saat ini. “Oh, Cakka ? Cakka nggak masuk Shil, dia izin katanya ada pertandingan basket, berangkatnya juga mendadak sih” Jelas Sivia. “Oo.” Akhirnya kegelisahan ku pagi ini terjawab sudah.
“Hmm, Cakka ….”

Cakkalah yang udah buat gila saat ini. Aneh rasanya bila menyukai seseorang diam-diam dan mengungkapkan perasaan cinta melalui perbuatan yang menurut teman-temanku aneh, apalagi gue enggak pernah mendapat respon olehnya, melihat gue aja dia enggan, apalagi tersenyum kepada gue.
***

Sudah satu minggu gue enggak pernah melihat Cakka, hal itu membuat hati gue terasa hampa, enggak bersemangat dan tentu saja rindu, rindu akan senyumannya yang khas. Untung saja gue masih bisa mendengar kabar tentangnya melalui Sivia dan teman-teman yang lain, dan gue sudah bersyukur akan hal itu. Tak jarang waktu istirahat gue habiskan dengan pekerjaan yang menurut teman-temanku aneh dan konyol, yaitu menulis nama Cakka berulang-ulang di buku kesayangan milikku.

“Kangen ya Shil ?” pertanyaan Sivia tiba-tiba menerjang telinga gue. Sivia selalu saja bisa membaca pikiran gur, apalShili hal mengenai Cakka.

“emm, kangen ? dengan siapa Vi ?” Jawab gue gugup.

“Ya ampun Shilla, enggak usah pura-pura bodoh. Gue tuh udah hafal luar kepala tingkah konyol lo itu. Emm, Shil emangnya lo nggak ada pekerjaan lain apa, sempat-sempatnya lo mengisi buku setebal itu dengan nama C-A-K-K-A ? Enggak bosan Shil, sekali-kali lo nulis nama gue juga enggak apa-apa, gue ikhlas kok.” Rupanya Sivia mulai menggoda gue lagi dan gue hanya membisu enggak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun.

“Semalam Cakka udah pulang loh Shil, dan katanya hari ini dia mau ke sekolah.” Lanjut Sivia. Sivia memang mengetahui segala sesuatu tentang Cakka, hampir tiap malam mereka sms-an. Terkadang rasa cemburu menghantui gue ketika melihat kedekatan Sivia dan Cakka, tapi gue percaya kalau Sivia enggak mungkin ngehianatin gue, lagipula Sivia hanya nganggep Cakka sebagai teman dan enggak lebih.

Gue melemparkan pandangan ke bangku kosong milik Cakka untuk kesekian kalinya pagi ini. “Apa benar hari ini Cakka akan datang ?” Batinku. Sesaat kemudian gue melihat sosok yang sangat gue kenali masuk ke dalam kelas. Hmm, Akhirnya Cakka datang juga, gue merasa sangat senang, rasanya rinduku pun mulai terobati dan tanpa gue sadari seulas senyum sudah gue lemperkan pada sosok yang gue kagumi tu, namun apa yang gue dapetin ? Dia sama sekali enggak membalas senyumku, dia malah membuang muka lalu beranjak keluar kelas. Ya udahlah, gue memang sudah terbiasa dengan sikap dingin Cakka seperti tadi, lagipula ini bukan pertama kalinya Cakka melakukan hal tersebut kepada gue.
Namun, apapun yang Cakka lakukan terhadap gue rasa sayang gue kepadanya enggak akan pernah hilang.

Kedatangan Cakka ke sekolah membuat gue kembali bersemangat, dengan melihat senyumannya aja gue sudah merasa sangat bahagia. Hari ini gue dan Sivia menghabiskan waktu istirahat kami di belakang kelas, tempat favorit kami berdua.

“Shil, sampai kapan lo mau memendam perasaan lo ke Cakka ? Lo mau terus-terusan kayak gini ? Enggak capek Shil ?” Sivia memuai pembicaraan.

“Entahlah Vi, gue juga enggak tahu. Gue enggak mau berharap banyak, cukup dengan melihatnya tersenyum aja udah buat gue seneng. Yah, meskipun senyuman itu bukan buat gue.”
“Ya ampun, Shilla, Shilla… “

Tiba-tiba Cakka datang menghampiri kami berdua dan menarik tanganku menjauhi dari Sivia denga kasar. “Hmm, ada apa ya…?” Gue belum menyelesaikan kata-katgue, namun Cakka sudah melemparkan buku-buku dan kertas yang merupakan tugas yang gue kerjakan untuknya selama satu minggu dengan susah payah.

“Shil, apa maksud lo ngerjain semua tugas ini untukku ?” Bentak Cakka. “Kenapa ? Ayo jawab !” Gue diam tak berkutik, butiran bening mulai membasahi pipiku. “Rasanya gue enggak pernah nyuruh lo. Oo, atau mungkin lo sengaja buat gue hutang budi sama lo ? Ngaku aja deh Shil”. Tanpa menunggu jawaban gue, Cakka usdah beranjak pergi meninggalkanku. Sedangkan Sivia, dia cuma diam melihat kejadian barusan tanpa melakukan pembelaan buat. Sepeninggal Cakka, Sivia baru berani mendekatiku. “Udah ya Shil, masuk kelas aja yuk.” Sivia berusaha menenangkanku.

Hatiku benar-benar kacau hari ini, ditambah lagi sepulang sekolah gue melihat Cakka dan Sivia pulang bersama-sama, betapa perih hatiku melihatnya. “Emang gue enggak berharap milikin Cakka, tapi kenapa Cakka harus milih Sivia ? Pandangan gue terhadap Sivia ternyata salah, Sivia yang udah gue anggap sebagai sahabat ternyata tega ngehianatin gue.”

Setelah melihat kejadian barusan, gue bergegas pulang ke rumah dan mengunci diri seharian di kamar. Kata-kata yang pernah Sivia ucapkan kepada gue pun terulang kembali dimemoriku “Segalanya sah dalam hal perang dan cinta, Shil”. Apa ini maksud ucapan Sivia waktu itu ? Air mata gue tak terbendung Lagi, gue menangis sejadi-jadinya. “Tuhan, inikah balasan yang harus gue terima? Harusnya gue sadar, apapun yang gue lakuin buat Cakka enggak akan ada gunanya, enggak akan buat dia bahagia. Sepertinya gue benar-benar harus ngelupain Cakka dan merelakannya untuk Sivia. Biarlah Cakka menjadi Cinta dalam hatiku yang akan abadi untuk selamanya.” Ucapku.
***
Pagi ini gue berangkat ke sekolah dengan langkah yang berat, sebenarnya gue bisa saja beralasan untuk enggak masuk sejolah hari ini, namun gue enggak mau menjadi orang yang selalu lari dari kenyataan. Sesampainya disekolah gue bersikap biasa terhadap Sivia seakan gue enggak melihat kejadian kemarin.
“Shil, kabarmu gimana ? Udah baikan ?” Sapa Sivia ramah terhadapku. Gue hanya menjawab pertanyaan Sivia dengan senyuman. Sivia mengerutkan kening, sepertinya ia menyadari sesuatu yang berbeda dariku pagi ini. “Shil, semalaman lo nangis terus ya ? matamu sampai sembab gitu. Udah dong Shil, enggak usah sedih lagi yah, semuanya akan baik-baik saja kok.” “What ? baik-baik aja ? baik buat lo kali hil.” Batin gue.

Gue melihat sosok Cakka yang berjalan ke arah gue dan Sivia. “Mau apa lagi dia ?” Tanya gue dalam hati. Untuk kedua kalinya Cakka menarik tanganku menjauh dari Sivia tapi kali ini dengan sentuhan lembut. Shil, gue mau ngomong sama lo.” Cakka mulai membuka suara. “Gue mau minta maaf soal perbuatan bodoh gue kemarin. Gue enggak bermaksud untuk menyakiti lo Shil, sekarang gue udah sadar kalau gue salah.” Lo mau maafin gue ?” Gue hanya mengangguk lemah. “Thank’s Shil.” Ucapnya sambil tersenyum. Gue hampir pingsan melihat senyuman itu, baru kali ini Cakka tersenyum buat gue.

“Gue mau minta maaf lagi Shil.” Katanya lagi. Gue mengerutkan kening tanda tak mengerti. “Emm, maafin gue yang enggak bisa bales perasaan elo. Gue udah tahu semuanya, mulai dari alasan lo selalu baik sama gue, selalu perhatiin gue, selalu ngerjain semua tugas-tugas gue, sampai mengenai perasaan lo ke gue, kemarin Sivia udah cerita semuanya ke gue. Tapi, gue harap kita bisa temenan lagi Shil. Thanks for all.” Ucapnya sebelum pergi ninggalin gue. Saat gue mendengar semua ucapan Cakka, gue merasakan sakit dan senang secara bersamaan. Gue jadi teringat kejadian kemarin saat gue melihat Cakka bersama Sivia. Ternyata saat itu Sivia hanya menceritakan mengenai hal ini kepada Cakka. Bodohnya gue karena sudah berprasangka buruk kepada Sivia. “Maafkan Gue Vi” Batin gue.

“Ya udahlah, mungkin ini memang yang terbaik buat gue dan Cakka. Walaupun gue engak bisa milikin Cakka, tapi yang penting sekarang Cakka mau berteman sama Gue. Itu semua sudah cukup kok. Em, satu hal yang pasti, Cakka akan tetap menjadi Cinta dalam hatiku” Batin gue sambil tersenyum senang.


Mungkin ini memang jalan takdirku…..
MengShilumi tanpa dicintai……
Tak mengapa bagiku, asal kaupun bahagia dalam hidupmu….
Dalam Hidupmuu…..
Kuingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu….
Meski kutunggu hingga ujung waktuku….
Dan berharap, rasa ini kan abadi ….
untuk selamanya.…

1000 balon untuk sahabat

Baru saja memasuki kelas namun apa daya ? dia yg dulu periang banyak teman kini namun karena orang tua nya sudah kaya raya teman-temannya menganggap bahwa dirinya sombonk , egois padahal TIDAK.. Dia hanya terlalu memikirkan orang tuanya yg sering berantem karena masalah sepele , namun dia cenderung tidaj menungkapkan tapi hanya selalu sendiri walaupun aku sahabatnya tapi dia tak pernah mengungkapkannya karena dia cenderung bilang “ aku gpp “ selalu jawabnya itu terkadang juga aku dilihat memar dia mukanya selalu saja ditutupi dengan seribu alasan karena kesandung batu lah apa lah selalu saja. Memang sahabat satu ku kini dia selalu sendiri namun disampingnya selalu ada aku dan Rio. Kini terlihat jelas mukanya sangat lelah mungkin karena terlalu larut malam tidurnya.. Aku pun berusaha tersenyum manis padanya kenalkan nama sahabatku adalah sivia azizah nasibnya begitu malang ! aku tidak pernah merasakannya dan juga kalau aku jadi dia aku lebih baik mati dari pada menanggung penderitann sendiri tanpa sosok pigur Ibu disampingnya..
“hai , vi “ sapaku lembut dia hanya membalas senyuman sambil duduk disampingku
“kecape aan yah ? ngapain aja ? tanyaku
“aku Cuma tidur larut malam ngerjain tugas , fy “ jawabnya berbohong padaku setau ku hari ini tak ada tugas pasti dia menangis karena melihat ayah dan ibunya . ibu nya selalu saja jarang pulang dan terakhir kali ku lihat ibunya dengan cowo lain sambil bergandengan dengan cowo lain ku tidak ingin bilank ke siapa-siapa Cuma aku dan Tuhan saja yang tau..
“perasaan gk ada tugas deh “ kataku meangkat 1 alisku
“kamu gk bohong ? Tanya ku lagi
“hehehe.. aku bohong , fy “ jawabnya
“emang ada masalah apa ? tanyaku “gpp kok “ jawabnya terbuktikan dia hanya bilang
“gpp kok “ emang sahabat itu hanya sebatas status apa ? sahabat itu menurut ku saling berbagi disaat dia senang , di saat dia bahagia dan disaatnya sedih pun .
aku mencoba tersenyum walaupun sivia tak pernah mengakui kalau dia mempunyai masalah didalam keluarga.. Segitunya kah dia menyanyangi orang tua nya ? sehingga dia rela berkorban apapun demi orang tua nya ? ya Allah aku tidak pernah mempunyai sahabat setegar ini dan aku pun belajar baik dengan artinya “kesabaran”
****
Pulang sekolah ini aku dan sivia menunggu Mario stevano aditya haling sahabat kami berdua yg kebetulan sedang mengerjakan ulangan matematika belum lama kami menunggu kami malah dihadang oleh beberapa kelompok namanya : shilla , Gabriel , zevana , dan Zahra..
aku perkenalkan satu persatu kenapa mereka membenci sivia azizah ..
Shilla : shilla menganggap sivia telah merenggut Alvin dan Rio dari tangannya padahal Alvin  saja bilank k kami kalau dia “ Belum mau pacaran “  Alvin sering dekat sama sivia namun karena Alvin harus pindah k malang mereka pun berjauhan . shilla ini menyukai rio dan Alvin namun apa daya ? rio tidak menyukai dia , dia hanya menyukai sivia walau perasaan ku hancur tapi tak apalah demi sahabat ! dulu shilla adalah sahabat sivia..
Gabriel : Cowo yg sering dipanggil “iel” ini dia menyukai sivia . sering kali dia menembak via menjadi kekasihnya namun apa daya ? sivia terus menolak karena dia tak mau pacaran karena Gabriel sakit hati selalu ditolak dia pun membencinya
Zahra & zevana : cewe berdua ini memang penjahat ! dia selalu mengusik sivia , karena dulu mereka selalu pintar namun saat sivia mereka harus digantikan dengan prestasi sivia.. Sungguh mengejutkan seseorang siswi cerdas kini patah semangat hanya karena prestasinya digantikan.
Begitu lah kenapa mereka terlalu membenci sivia. Dengan tatapan tajam mereka berhadapan dengan ku dan sivia , namun sivia hanya membalas dengan senyuman . aku heran kenapa setiap ada masalah dia selalu tersenyum ?
“hi . sudah ku bilank jauhin Rio “ kata shilla sambil mendoronk sivia namun sivia hanya tersenyum
“maaf , shil ! aku gak akan jauhin rio karena rio sahabatku dan kamu boleh saja menyukai dia tapi apa salah aku dekat sama rio sebagai sahabat itu masih dipermasalahkan ? “ jawab sivia enteng
“awas kamu yah ? “ kata shilla menghentakkan kakinya dan pergi begitu saja diikuti dengan yg lain..
**
Hari telah berganti hari , bulan pun telah berganti bulan kini aku dan siswa SMA 6 telah siapa menunggu LULUS/TIDAK LULUS dengan hati deg’deg’an ..
belum juga kami harus menunggu itu aku sering melihat kejadian sivia merasa pusing , muntah darah . aku takut sivia kenapa-kenapa dan benar feelingku kalau sivia mengidap kanker otak stadium 2 yg mungkin sebentar lagi dia tidak ada didunia ini..
Sivia tidak ingin dikemo karena membuat dirinya tersiska atas obat-obat itu biar saja dia menunggu mukzizat dari Tuhan.. Orang tua nya saja pun tak pernah tau kalau anaknya mengidap KANKER OTAK  stadium 2..
**
Aku Alyssa saufika umari telah berjanji kalau aku membahagiakan sivia azizah , aku berusaha teman-teman yg membenci sivia mau berteman lagi denganya namun apa daya mereka tidak ada yg mau memaafkan .
 mereka terlambat saat sivia telah meninggal mereka baru memaafkan sivia dan minta maaf atas keegoisan merela sebaliknya dengan orang tuanya , orang tuanya sangat menyesal atas kejadian ini..
 ***
 Pemakaman
 Terlihat jelas banyak teman-teman membenci sivia berkumpul bukan untuk menertawakan sivia namun mendoakan sivia semoga dia disana baik-baik saja ..
 “via .. maafin aku ! aku udah ngerusak persahabatan kita karena masalah cowo “ kata shilla yg menangis didepan kuburan sivia
 “via.. maafin aku ! aku gak bermaksud untuk membenci kamu tapi kamu selalu ada dihatiku selamanya “ kata Gabriel “via.. maafin aku dan Zahra ! aku dan Zahra terlalu egois.. maafin aku dan Zahra “ kata zevana Kini orangtua sivia pun ikut-ikut terduduk sedangkan aku ? aku hanya menangis dipelukan Rio aku gak sanggup kehilangan sahabatku yg selalu tegar menghadapi masalah..
“sayang . maafin bunda sama yah ? udah nyiain kamu , kamu kenapa gak ngasih bunda ? kalau kamu mengidap penyakit ini , sayang “ kata bunda via ,a ku melepaskan pelukanku dari rio dan menddekat kearah bunda dan memberikan sesuatu yg ingin dikasih sivia ke bunda.
. “bunda.. ini pemberian via terakhir kali dia ingin bunda sama ayah lihat “ kataku sambil memberikan pemberian sivia ke bunda dan ayah..
terdapat satu photo dimana satu keluarga penuh kebahagian dan satu surat. ayah dan bundapun membuka surat itu..
from. Sivia to. Bunda and ayah
bunda , ayah kapan kita bisa ngumpul seperti dulu ? seperti photo itu ? dimana kita penuh kebahagian. Via ikhlas ayah mukul via , via ikhlas banget mungkin via terlalu menekan ayah tapi via hanya ingin kebahagian dulu terulang kembali . dimana kita tertawa bareng , dimana ayah ngejekin bunda , via ingin itu! Bunda dan ayah , via ingin merasakan kasih sayang kalian pada sivia lagi.. sivia berharap ayah dan bunda memberikan kasih sayang dan cinta kalian untuk sivia bukan untuk PEKERJAAN..
TTD sivia
****
Hari ini aku dan teman-teman membeli 1000 balon untuk minta maaf sama sivia.. kini tepat didanau kesukaan kami.
“1..2…3 .. lepas “ kata shilla sambil melepaskan balon ditangannya dan yg lain pun mengikutinya “semoga sivia kamu disana memaafkan kami ! kami sayang kamu “ teriak Gabriel
***
aku dan rio kini sedang terduduk asyik disebuah danau sambil mendengar alunan gitar yg digitari oleh rio.. aku pun ikut bernyanyi..
Berjanji lah wahai sahabatku Bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum.. meski hati sedih menangis ku ingin kau tetap tabah menghadapinya.. Bila… kau harus pergi meninggalkan diriku jangan lupAkan aku..
semoga dirimu disana kan baik-baik saja.. untuk selamanya disini aku kan selalu RINDUKAN DIRIMU.. wahai sahabatku..
berjanjilah wahai sahabatku.. Bila kau tinggalkan aku tetaplah TERSENYUM.. Meski hati sedih menangis , ku ingin kau tetap tabah mengahAdapinya.. bila.. kau harus pergi meninggalkan diriku jangan lupakan aku..
semoga dirimu disana kand baik-baik saja,, untuk selaamanya.. disini aku kand selalu RINDUKAN DIRIMU.. wahai sahabatku..
Bila.. kau harus pergi meninggalkan dirinku jangan lupakan aku..
semoga dirimu disana kand baik-baik saja .. untuk selamanya.. disini aku kand selalu RINDUKAN DIRIMU Wahai sahabatku,…
Itu lagu terakhir dari kami berdua untuk sahabat kami tercinta yg selalu tabah menghadapi masalah dengan senyuman..
Terukir indah dihati kami bahwa SIVIA AZIZAH Adalah SAHABAT KAMI TAK PERNAH KAMI LUPAKAN SELAMANYA..

EL-NINO IN MY MIND

assalamualaikum wr. wb.
sedikit cerita tentang kelas tercinta saya yang mungkin tidak lama lagi tidak bisa saya rasakan kembali.


Yuuup, EL-NINO Every One Love Nine One. Siapa yang tidak kenal EL-NINO dengan segala macam kehebohan, kegilaan, dan berbagai karakter yang berbeda-beda. Haha yaya pertama kali saya naik ke kelas 8, saya ditempatkan di kelas 8.1 dengan wali kelas yang sama pada waktu kelas 7. Sedikit minder awalnya karena sebagian besar dari siswa 8.1 belum mengenal saya begitupun sebaliknya. Tapi seiring berjalannya waktu, kami pun bisa saling mengenal satu sama lain. Banyak sekali moment-moment indah yang kami lewati bersama dan mungkin tidak akan terlupakan bagi saya. Saat mendekati kenaikan kelas 9, banyak gosip beredar. Katanya kelas akan dirolling kembali *huaah semoga tidak. Saya sudah merasa senang berada disisi mereka*.
     Benar saja setelah libur panjang semester kami dipertemukan kembali didalam kelas yang sama. Senang rasanya karena bisa bersama mereka lagi, melewati hari-hari terakhir di SMP NEGERI 12 MAKASSAR *lebay*. Well sedikit berbeda dari kelas 8 dikelas 9 ini saya mendapat 3 orang sahabat yang menurut saya semuanya sedikit “tidak waras” termasuk saya sendiri. Ega dengan suara yang seperti petir kalau tertawa. Ildha dengan keterlambat lodingannya. Mayang dengan hobinya yang sering memotret orang ketika jam pelajaran (paparazi). Dan saya sendiri dengan kebiasan bergalau ria (menurut mereka). Tapi dengan kebiasaan kami yang berbeda-beda kami berusaha untuk mengerti satu sama lain.
 Seperti layaknya siswa-siswa lainnya, tak ada guru berarti surga bagi kami. Tidak ada yang namanya kelas 9.1 diam, tenang ketika guru tidak masuk. Kelas seperti rumah sakit jiwa, ada yang joget, drama, main game, gosip, mondar-mandir gak jelas, everythinglah semua bisa didapat dikelas ini. Ini yang membedakan kami dengan kelas lainnya. Tertawa bersama, menangis bersama, semua dilakukan bersama. Oh yah ada tradisi dikelas kami. Setiap ada yang ulang tahun pasti dirayakan bersama dikelas. Entah itu tiup lilin, potong kue, main cream, sampai buka kado.
    Tapi biasa saya berpikir, sampai kapan saya bisa merasakan ini semua? Berkumpul, bercanda tawa bersama mereka. Mereka yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Yang selalu ada disaat senang maupun sedih. Apakah di sekolah yang baru nanti masih ada orang-orang seperti mereka? Tuhan jangan pisahkan kami, walaupun harus terjadi janganlah kau pisahkan hati kami. Mereka terlalu berarti 
SELESAI 
 
Copyright (c) 2010 emon's blog and Powered by Blogger.